Langsung ke konten utama

TRAUMA HEALING


MESJID DAN MENASAH SEBAGAI TEMPAT TRAUMA HEALING


Bermula dari sebuah unggahan di media sosial, awalnya hanya satu, lalu menjadi puluhan, hingga akhirnya lini masa saya dipenuhi oleh warna cokelat keruh yang menelan atap-atap rumah. Berita banjir di Aceh bukan sekadar angka pengungsi atau data kerugian materi, bagi saya, itu adalah panggilan jiwa yang mengusik ketenangan tidur.
​Sebagai seseorang yang memiliki jiwa relawan, melihat saudara sendiri terendam air memicu gelombang keresahan di dalam dada. Saya ingin bergerak. Saya ingin berada di sana, memegang tangan mereka, atau sekadar memindahkan satu balok kayu yang menghalangi jalan. Namun, realita seringkali tidak semudah niat.
​Akses terputus. Informasi tentang bagaimana menuju ke sana masih simpang siur, dan jujur saja, saya tidak memiliki kendaraan atau logistik yang memadai untuk berangkat sendirian. Ada perasaan tidak berdaya yang menyesakkan ketika hati sudah berada di lokasi bencana, namun raga masih tertahan di balik meja, hanya bisa terus melakukan scrolling dengan perasaan bersalah.

Harapan itu datang melalui sebuah pesan singkat di grup WhatsApp. Sebuah organisasi masyarakat sedang mempersiapkan armada untuk menyalurkan donasi langsung ke titik-titik pengungsian di Aceh Tamiang. Tanpa berpikir dua kali, saya langsung mendaftarkan diri.
​"Saya ikut," hanya itu yang saya katakan, namun di baliknya ada tekad yang sudah bulat.
​Perjalanan menuju Aceh Tamiang terasa lebih panjang dari biasanya karena jalan yang rusak dan jembatan putus. Saya membawa ekspektasi yang saya bangun dari foto-foto di Instagram dan berita di televisi. Namun, saya tidak menyadari bahwa apa yang tertangkap kamera hanyalah sepersekian dari kenyataan pahit yang sebenarnya terjadi di lapangan.
​Saat roda kendaraan mulai memasuki wilayah Tamiang, bau lumpur yang khas dan sisa-sisa air yang menggenang mulai menyapa. Selama ini, saya hanya melihat banjir dari balik layar ponsel yang bisa saya tutup kapan saja jika merasa terlalu sedih. Namun, berdiri langsung di atas tanah yang masih basah dan berlumpur di Aceh Tamiang memberikan tamparan yang keras pada kesadaran saya.
​Perasaan saya campur aduk. Ada rasa sesak yang luar biasa saat melihat sebuah lahan kosong yang menurut warga dulunya adalah rumah mungil yang hangat. Kini, rumah itu hilang, dibawa lari oleh arus sungai yang mengamuk. Saya bertemu dengan seorang ibu yang matanya sembab, ia bukan hanya kehilangan harta benda, tapi juga kehilangan anggota keluarga yang tak sempat menyelamatkan diri.
​Di sisi lain, pemandangan rumah-rumah yang masih berdiri pun tidak kalah memilukan. Dinding-dindingnya tertutup lumpur pekat setinggi plafon. Perabotan yang dikumpulkan bertahun-tahun dengan kerja keras, kini hanya menjadi tumpukan sampah tak bernyawa di depan halaman. Melihat itu semua secara langsung membuat "postingan orang-orang" yang saya lihat sebelumnya terasa sangat dangkal. Di sini, duka itu nyata, ia berbau lumpur, bersuara tangisan, dan terasa dingin.

​Namun, di tengah puing-puing dan sisa bencana itu, saya menemukan sesuatu yang luar biasa.
​Aceh Tamiang mengajarkan saya tentang arti "bangkit".
Saya melihat warga bergotong-royong membersihkan sisa lumpur sambil sesekali melempar tawa kecil, sebuah usaha luar biasa untuk menutupi kepedihan. Mereka tidak menunggu bantuan datang untuk mulai menyapu lantai rumah mereka yang kotor. Mereka bergerak dengan sisa tenaga yang ada.
​Kesedihan itu ada, namun mereka menolak untuk tenggelam di dalamnya. Mereka segera bangkit, memperbaiki apa yang bisa diperbaiki, dan saling menguatkan antar tetangga. Semangat juang ini menjadi pelajaran berharga bagi saya. Saya datang untuk memberi bantuan, namun justru saya yang pulang dengan membawa pelajaran tentang ketabahan.
​Perjalanan ke Aceh Tamiang ini mengubah cara saya memandang hidup. Bahwa di balik setiap musibah, selalu ada jiwa-jiwa yang menolak untuk menyerah pada keadaan.

Satu hal yang paling menggetarkan jiwa saat berada di lapangan adalah kemampuan mereka untuk tetap bersyukur. Di atas puing-puing rumah yang hanyut atau di depan tumpukan harta benda yang rusak, masih ada tawa kecil saat mereka membagikan nasi bungkus di posko.
​Ini bukan tawa karena mereka tidak merasa kehilangan, melainkan tawa sebagai bentuk perlawanan terhadap keputusasaan. Mereka percaya bahwa "harta bisa dicari, namun nyawa dan iman harus dijaga." Filosofi hidup inilah yang membuat proses pemulihan psikologis di Aceh Tamiang berjalan lebih cepat. Mereka menerima takdir dengan lapang dada, lalu segera menyingsingkan lengan baju untuk bekerja kembali.

Pasar-pasar darurat mulai tumbuh bahkan sebelum air benar-benar surut dari jalanan utama. Para pedagang kecil menggelar dagangannya di atas meja-meja kayu yang masih basah.
​Gerakan ekonomi akar rumput ini adalah bukti nyata bahwa masyarakat Aceh Tamiang memiliki daya tahan (resiliensi) yang luar biasa. Mereka memahami bahwa berlama-lama meratapi nasib hanya akan memperpanjang penderitaan.
Perjalanan ke Aceh Tamiang mengajarkan kita bahwa musibah bisa merusak bangunan, tapi tidak bisa meruntuhkan harapan. Masyarakat Aceh telah membuktikan bahwa cara terbaik untuk bangkit dari kesedihan adalah dengan terus berjuang memperbaiki keadaan, sedikit demi sedikit, hari demi hari.

Ketabahan mereka bukanlah tanpa alasan. Landasan utama masyarakat Aceh adalah keyakinan mutlak bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Bagi mereka, bencana ini dipandang sebagai ujian untuk menaikkan derajat keimanan, atau sebuah 'tegur kasih' agar manusia kembali bersimpuh. Inilah yang mencegah keputusasaan mendalam; mereka tidak lagi meratap dengan pertanyaan 'Mengapa aku?', melainkan mencari 'Apa hikmah di balik ini?'. Proses trauma healing pun terjadi secara organik melalui doa dan zikir yang menggema di meunasah-meunasah

Filosofi masyarakat Aceh dalam menghadapi bencana adalah "Sabar dalam menerima, Syukur dalam kekurangan, dan Gigih dalam berjuang." Inilah yang menjelaskan mengapa di tengah lumpur sisa banjir, masih bisa melihat mereka tersenyum dan saling berbagi nasi bungkus, seolah mengatakan pada dunia bahwa semangat mereka tidak akan pernah hanyut oleh air.

Allahu Akbar 
( Surya akhir Des 2025 )

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Anak Qu Gen Z

Generasi Z memiliki banyak kelebihan dan potensi besar, mereka juga menghadapi beberapa kelemahan yang perlu diatasi. Penting untuk memahami bahwa setiap individu adalah unik, dan kelemahan yang ada dapat diatasi dengan dukungan, pendidikan, dan pengembangan diri yang tepat. Generasi Z memiliki banyak kelebihan dan potensi besar, mereka juga menghadapi beberapa kelemahan yang perlu diatasi. Sebagai orang tua, penting untuk memahami bahwa setiap individu anak adalah unik, dan kelemahan yang ada dapat diatasi dengan dukungan, pendidikan, dan pengembangan diri yang tepat.

Renungan di Usia 50 tahun

Saat senja tiba, mari merenungkan kehidupan yang telah kita lewati. Alhamdulillah, memasuki usia 50 tahun adalah perjalanan yang melampaui sekadar angka. T ahapan hidup yang dipenuhi dengan berbagai pengalaman, pelajaran, dan ujian. R asa syukur mengalir seiring dengan setiap detak jantung yang diberikan oleh Allah SWT. Sebagai renungan diri, di usia emas ini, beberapa hal yang harus diperhatikan : 1. Tingkatkan hubungan dengan Allah SWT.  Mencapai usia 50 tahun bukan hanya tentang pencapaian fisik, tetapi juga pencapaian spiritual. P erbanyak ibadah, doa, dan ketaatan kepada-Nya. A mal baik anggap sebagai investasi untuk kehidupan akhirat. 2. Perbaiki diri dari kesalahan. Usia 50 tahun menjadi panggung untuk merenung dan memperbaiki diri dari kesalahan masa lalu. 3. Tingkatkan kualitas ibadah. Fokus pada kedalaman dan kesungguhan dalam melaksanakan ibadah. 4. Jaga perilaku dan akhlak.  Tindakan yang dipilih harus mencerminkan kebaikan bagi diri sendiri dan masyara...